5
Toleransi Ucapan Hari Raya Islam
TOPIK: Ucapan Hari Raya dan Batas Keyakinan
Subtopik: Perspektif Pribadi dalam Mengucapkan Hari Raya
Dalam kehidupan masyarakat majemuk, ucapan hari raya sering menjadi perdebatan. Sebagian orang memandang bahwa mengucapkan selamat atas hari besar agama lain adalah bentuk toleransi sosial. Sebagian lainnya menganggap bahwa ucapan tersebut berkaitan dengan keyakinan teologis sehingga memilih untuk tidak mengucapkannya.
Keyakinan dan Identitas Pribadi
Mengucapkan atau tidak mengucapkan hari raya tidak serta-merta mengubah keyakinan seseorang. Keyakinan ditentukan oleh apa yang diyakini dalam hati, bukan sekadar bahasa atau ungkapan sosial. Karena itu, sebagian orang merasa santai dalam mengucapkan, sementara yang lain memilih menjaga batas akidahnya.
Subtopik: Agree to Disagree dalam Masyarakat Plural
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural, sikap dewasa adalah memahami bahwa terdapat perbedaan pandangan yang sah di antara pemeluk agama. Prinsip "setuju untuk tidak setuju" memungkinkan masing-masing pihak tetap teguh pada keyakinannya tanpa memaksakan kepada orang lain.
Fokus pada Relasi, Bukan Seremoni
Sebagian orang memilih menilai hubungan berdasarkan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan pada ucapan seremoni tahunan. Sikap saling menghormati dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar simbol perayaan.
Comments
Post a Comment